script writer

March 25, 2010

Sekolah dan Kebangkitan

Filed under: artikel — akupsikolog @ 3:52 am
Tags:

Banyaknya sekolah atau institusi pendidikan, serta bertambahnya sarjana dan lulusan pakar di dalam semua bidang, apakah hal itu merupakan tanda kebangkitan, atau hanya jalan menuju kebangkitan? Definisi yang terkenal dari sekolah adalah lembaga yang menghendaki kehadiran penuh kelompok-kelompok umur tertentu dalam ruang-ruang kelas yang dipimpin oleh guru untuk mempelajari kurikulum-kurikulum yang bertingkat. Sekolah saat ini dianggap sebagai lembaga yang melakukan transfer ilmu di waktu dan tempat yang telah ditentukan dengan kurikulum yang baku.

Faktanya menunjukkan bahwa dalam suatu negara banyak terdapat sekolah dan lulusan pakar di bidang tertentu tidak menjamin bangkitnya negara tersebut. Bahkan sekolah dan lulusan pakar yang berasal dari sekolah itu cenderung tidak berguna dan tidak mampu menyelesaikan masalah dan membawa kebangkitan terhadap negara beserta umat dengan keilmuan yang didapatkan di sekolah. Sebut saja India, jumlah lulusan pakar di sana sangat banyak, namun tingkat kemakmurannya belum ada apa-apanya, justru terdapat di sanalah orang-orang termiskin dan termundur di dunia. Yang membuat miris adalah para lulusan pakar tersebut hanya bisa berwacana dengan teori-teori keilmuan mereka, yang tak menghasilkan apa-apa (tidak bekerja menyelesaikan masalah di bidangnya masing-masing). Hal ini juga yang menyebabkan mereka terpaksa mencari alternatif pekerjaan di tempat lain.

Sehingga sekolah dan lulusan pakarnya tidak bisa dijadikan standar kebangkitan. Mengapa? Jawabnya karena di dalam sekolah hanya terjadi ta’lim (proses transfer ilmu saja), di mana orang menuntut ilmu hanya untuk pengetahuan dan sifatnya untuk akademis semata. Sekolah terikat dengan kurikulum yang tetap (statis), jadi memang tidak bisa menyesuaikannya dengan kenyataan yang dihadapi di lapang, wajar jika teori-teori keilmuan mereka mengendap dan tidak ada fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan.

Fakta lain dari sekolah adalah pengaruh sekolah hanya tampak secara individual. Ia mampu mencerdaskan seorang individu dengan ilmu-ilmu, namun parsial, mampu mempengaruhi perasaan individu, tetapi tidak mempengaruhi pemikirannya. Oleh karena itu ia bersifat teoritis, tidak aplikatif. Dengan demikian, apakah sekolah yang tidak mampu merangsang pemikiran seseorang dapat membangkitkan? Tentu tidak. Sedangkan, kebangkitan yang diharapkan hadir dari kalangan terpelajar atau cendekiawan tersebut justru tak mampu membangkitkan umat, menyelesaikan masalah-masalah umat. Berarti ada yang salah mengenai konsep kebangkitan. Oleh karena itu, perlu didudukkan kembali makna kebangkitan.

Merujuk Kamus Dewan (Edisi Ketiga). (2002:101). Kebangkitan dapat diartikan dengan bangun, kesadaran, serta kegiatan yang membawa kemajuan. Ini bermakna kebangkitan adalah suatu proses pembangunan dan kesadaran tentang perkara yang perlu direformasikan yang mana melibatkan kegiatan-kegiatan yang membawa kemajuan kepada masyarakat. Ini adalah teori umumnya. Makna sebenarnya dari kebangkitan lebih dalam daripada itu.

Kebangkitan dalam bahasa arab disebut an-nahdhah, yaitu dikaitkan dengan kamajuan di berbagai bidang keilmuan, peningkatan produktivitas, pesatnya perkembangan industri, kecanggihan teknologi, dan banyaknya penciptaan alat-alat yang semakin memudahkan dan memakmurkan kehidupan. Kebangkitan dapat dikatakan sebagai sebuah kemajuan atau keadaan yang meningkat ke arah/peringkat yang lebih baik. Untuk mencapai tahap itu, bagi orang-orang yang ingin bangkit, maka mau tidak mau haruslah memecahkan permasalahan pokok kehidupan dengan pemecahan yang benar, yakni yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan menentramkan hati hingga tidak ada keraguan di dalamnya. Permasalahan pokok tersebut tertuang dalam tiga pertanyaan besar tentang kehidupan, yaitu, darimanakah manusia berasal, untuk apakah manusia hidup di dunia ini, dan akan kemanakah manusia setelah kehidupannya berakhir di dunia. Pertanyaan ini harus dipecahkan dengan benar. Karena ialah yang akan menjadi akidah seseorang, landasan berfikir seseorang, dan kepemimpinan berfikir seseorang, termasuk dalam menyelesaikan masalah-masalah cabang lainnya.

Dengan demikian, negara dan umat semestinya menyadari arti kebangkitan ini. Sehingga tidak serta-merta menstandarkan kebangkitan dari sekolah dan lulusan-lulusan pakar dari sekolah. Karena, sekolah bukanlah proses pembinaan yang di dalamnya terdapat proses berfikir, sehingga tidak dapat menggerakkan pemikiran seseorang. Sedangkan, orang yang dikatakan bangkit adalah yang mampu mengubah jalan pemikirannya/pemahamannya tentang kehidupan. Dan hal itu tidak diajarkan/diterapkan di sekolah. Maka, kembali kepada individu masing-masing, tidaklah mengandalkan sekolah untuk menuju kepada kebangkitan. Tugas ini, dalam mengajak seseorang menggunakan akalnya/berfikir, hakikatnya adalah tugas sebuah jama’ah, bukan sekolah. (Oleh : Crafty Rini Putri – Education Link)

Upaya Bersama Memerangi Globalisasi Dengan Islam

Filed under: artikel — akupsikolog @ 3:50 am
Tags:

Globalisasi adalah istilah yang muncul dalam bahasa Inggris dan Perancis sejak sekitar sepuluh tahun lalu. Istilah ini tidak digunakan untuk menyifati sesuatu bahwa keberadaan atau terwujudnya sesuatu itu telah berskala global di sebagian besar penjuru dunia, tetapi digunakan untuk menyatakan bahwa ada satu atau beberapa pelaku ekonomi yang bermaksud mengglobalkan sesuatu. Misalnya, ada satu perusahaan tertentu yang mengadopsi kebijakan produksi yang memandang seluruh dunia sebagai tempat yang layak untuk memproduksi barangnya. Kemudian perusahaan itu benar-benar memproduksi barangnya di satu atau beberapa negara dengan biaya produksi yang lebih rendah daripada di negara lainnya. Pada saat itulah, dikatakan bahwa perusahaan tersebut telah mengglobalisasikan produknya.

Globalisasi menekankan pada privatisasi, anti intervensi negara dalam ekonomi, dan kepercayaan absolut pada mekanisme pasar yang muncul bersamaan dengan bangkitnya paham neoliberalisme di Amerika Serikat pada masa Presiden Ronald Reagan dan di Inggris pada masa PM Margaret Thacher. Secara paksa agenda globalisasi ini diimplementasikan atas negara-negara berkembang lewat badan-badan dunia seperti WTO, IMF dan Bank Dunia.

Apakah globalisasi berhasil mewujudkan kemakmuran? Jawabnya, iya, jika yang dimaksudkan adalah kemakmuran untuk negara-negara Barat. Mereka memang menikmati kemakmuran yang luar biasa. Sebaliknya, masyarakat di negara-negara dunia ketiga tetap hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Salah satunya adalah Indonesia, yang sudah hampir habis kekayaan alamnya dikeruk oleh mereka dan mengakarnya gaya hidup hedonisme. Padahal globalisasi hanyalah istilah kosong yang tidak memberi kontribusi apa pun bagi dunia, khususnya dunia Islam, kecuali hanya memberikan jalan bagi imperialisme untuk terus mencengkeram dan mengeksploitasi dunia.

Maka, jangan sampai ada seorang pun yang lalai dari pengaruh seruan dan propaganda yang memutarbalikkan fakta ini, dari kedok globalisasi yang digunakan untuk menutupi hakikat sebenarnya di negeri mana pun yang sedikit di dalamnya terdapat orang-orang yang sadar dan bertangung jawab dari kecenderungan penduduknya untuk mengikuti seruan-seruan tersebut dari media massa, serta dari meratanya ketidaktahuan masyarakat akan masalah ini.

Invasi globalisasi ini memang tidak memakai kedok agama, namun invasi ini sebenarnya lebih daripada invasi-invasi yang dilakukan atas nama agama, misalnya upaya misionaris melakukan kristenisasi di negri-negri muslim. Karena misinya tidak terlalu kentara, sehingga banyak masyarakat yang tidak menyadari sedang diserang dan dijajah oleh sebuah ideologi yang mengerikan.

Globalisasi sebagai sebuah gagasan tidak boleh dipahami secara lugu sebagai sekadar proses menyatunya berbagai belahan dunia akibat kemajuan yang luar biasa dari teknologi komunikasi dan informasi. Globalisasi bukan sekadar proses integrasi perekonomian nasional ke kancah perekonomian internasional. Sebab hakikatnya globalisasi adalah bentuk lain dari imperialisme Barat juga, khususnya atas umat Islam di negri-negri muslim, yakni proses universalisasi ideologi Kapitalisme, utamanya di bidang ekonomi, melalui pemaksaan prinsip-prinsip neoliberalisme oleh badan-badan dunia seperti IMF, WTO, dan Bank Dunia yang sengaja dibentuk melancarkan semua usaha dominasi dan eksploitasi bangsa-bangsa yang lemah (seperti Indonesia). Harapannya, seluruh dunia memeluk ideologi ini sebagai satu-satunya ideologi yang diklaim absah menjadi pemenang sejarah, khususnya setelah kehancuran Komunisme tahun 1991.

Di Indonesia, globalisasi dan liberalisasi makin jauh masuk, utamanya melalui LoI (Letter of Intent) tahun 1998 yang ditandatangani bersama oleh Soeharto, presiden Indonesia ketika itu, dan Camdessus, mewakili IMF, menyusul krisis moneter yang melanda Indonesia. Di antara butir LoI adalah penghapusan subsidi, privatisasi, dan liberalisasi. Beberapa butir penting itu kini sudah dilaksanakan. Subsidi pupuk dihapus, begitu juga BBM yang membuat melambung terus harganya. Tentu saja rakyat sangat menderita karena hal ini. Artinya, melalui tangan IMF dan para kompradornya di dalam negeri Indonesia, kapitalisme global bisa masuk dengan legal dan leluasa untuk menghisap kekayaan Indonesia. Apa yang akan kita katakan selain itu merupakan penjajahan atau imperialisme ekonomi?

Sumber daya alam menjadi sasaran empuk tindak eksploitasi kapitalis global. Liberalisasi itu di antaranya terjadi pada kasus migas di blok Cepu. Pemerintah Indonesia yang tetap memperpanjang kontrak dengan Exxon Mobil di ladang migas di blok Cepu yang dikabarkan mempunyai cadangan sebanyak 1,2 miliar barel yang semestinya berakhir 2010. Inilah globalisasi yang tidak lain berwujud imperilisme ekonomi demi kepentingan eksploitasi sumber daya ekonomi.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kolonialisme, modernisasi, dan globalisasi adalah agenda negara-negara kapitalis yang telah terbukti tidak membawa kebaikan kepada dunia. Kegagalan ini wajar, karena semua agenda itu memang bukan bertujuan untuk memberikan kebaikan kepada dunia, melainkan bertujuan untuk menindas sesama manusia demi kepentingan bisnis pemilik kapital/modal.

Karena itu, Kapitalisme sesungguhnya telah gagal. Namun, meski kekuatannya mulai keropos, ia masih cukup kuat untuk menindas dan menekan umat Islam di negeri-negeri muslim. Akan tetapi, saat ini umat sudah mulai terbuka matanya, tidak lagi cinta pada semua bentuk penindasan itu, sebaliknya semakin membenci dan muak.

Dengan demikian, sesungguhnya harapan umat manusia hanya tinggal satu, yakni Islam. Sudah semestinya, sejarah memberikan kesempatan pada Islam. Cepat atau lambat, suka atau tidak suka, ideologi Islam akan tampil kembali ke muka bumi. Umat Islam tidak bisa terus-menerus ditekan untuk mengikuti ideologi yang menjauhkannya dari agamanya. Umat juga tidak mungkin terus-menerus diajak untuk menghindar dari kewajiban untuk mewujudkan Islam sebagai tatanan hidup di dunia.

Dialah (Allah) Yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama walaupun orang-orang musyrik benci. (QS. as-Shaff [61]: 9)

oleh: crafty rini putri

February 14, 2010

FENOMENA V-DAY

Filed under: artikel — akupsikolog @ 9:15 am
Tags:

Memasuki Februari, nuansa cinta mulai bertebaran di mana-mana. Di berbagai tempat seperti mall, supermarket, juga media massa, baik media cetak maupun elektronik turut menebarkan kemeriahan menyambut hari yang diperingati tanggal 14 Februari ini. Ya, Valentine’s Day atau disingkat V-Day, telah menjadi trend di kalangan remaja.
Kalau saja remaja melihat sejarah dinobatkannya bulan februari sebagai bulan penuh cinta, mungkin akan bisa lebih cerdas dan kritis sebelum taklid/ikut-ikutan merayakan kebudayaan barat ini. Kalau kita tengok sejarah, ada banyak versi tentang asal muasal V-Day.
Salah satu versi menyatakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar melarang para pemuda untuk menikah, namun St. Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga ia ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M. Sebelum kematiannya ada seorang gadis anak sipir penjara yang mengobrol dengannya berjam-jam. Disaat menjelang kematiannya dia menuliskan catatan kecil “Love from your Valentine”.
Kemudian pada tahun 469 Paus Gelasius menetapkan 14 Februari sebagai tanda penghormatan buat St. Valentine. Lalu 14 Februari dijadikan momen untuk saling bertukar cinta, mengirim puisi, dan hadiah seperti bunga, coklat, boneka dan lain-lain.
Selain itu perayaan bulan cinta ini biasanya ditandai dengan acara kumpul-kumpul, atau pesta dansa. Awalnya perayaan ini semacam upacara keagamaan, mengagungkan St. Valentine yang mereka anggap sebagai simbol ketabahan, keberanian, dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan hidup, jadi Valentine diperingati oleh pengikutnya sebagai upacara keagamaan.
Namun perayaan ini beralih, bukan lagi upacara keagamaan, sejak abad 16 M upacara keagamaan itu dimulai berangsur-angsur hilang. Dengan perkembangan zaman, makna Valentine terus bergeser jauh dari arti yang sebenarnya. Faktanya, masyarakat terutama yang memperingati V-Day, tidak mengerti asal-usul V-Day. Yang mereka pahami, V-Day adalah ajang tukar kado, ajang kirim kartu ucapan “cinta”. Bahkan Prof. Charles Goerge menyarankan para remaja untuk melampiaskan hari Valentine tanpa memandang lagi mahram atau bukan, istrinya atau bukan, kakaknya sendiri pun mungkin juga.
Misalnya saja perayaan Lupercalia, yang merupakan upacara persucian di masa romawi kuno (13-18 Feb). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) Juan Februata. Tanggal 14 Februari, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak, lalu setiap pemuda mengambil nama secara random dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk jadi obyek hiburan dan have fun. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan Srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut dengan anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Tentu pandangan ini sangat berbeda dengan Pandangan Islam. Dalam Islam, Valentine’s Day adalah budaya barat, yang justru menjadikan pergaulan prian dan wanita semakin buruk. Bagaimana tidak, bila di hari itu kemaksiatan seolah dilegalkan, yang katanya cinta, diidentifikasi dengan nafsu seksual. Sungguh miris, Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam mudah dicekoki pemikiran-pemikiran budaya barat yang menyesatkan.
Saat ini, di Amerika misalnya pada hari Valentine orang-orang berkumpul mengadakan pesta dansa atau semisal, lantas berpesta seksual. Pernah diadakannya lomba kissing dalam waktu yang amat lama, dan bahkan banyak yang kehilangan virginitasnya di hari itu.
Dan, sasaran empuk di sini yaitu remaja. Mereka tidak lagi menampakkan intelegensinya sebagai generasi cerdas yang kritis, justru dengan bangga lancar menggalakkan momen ini. Sayang sekali teramat minim menemukan generasi penerus yang berkualitas, yang tidak mengambil mentah-mentah budaya yang sama sekali tidak benar. Mayoritas remaja saat ini lepas dari pedomannya Alqur’an, justru yang ada membebek pada gaya hidup hedonis yang diajarkan barat.
Jelas, perayaan hari valentine tidak ada dasarnya, apalagi menurut Islam. Jika alas an perayaannya adalah pengesahan terhadap hari berkasih sayang, mengapa harus dirayakan tanggal 14 Februari dan sehari saja. Padahal, menebarkan cinta (pada sesama) dianjurkan kapan saja (tentunya sesuai Syariat).
Sudah sepatutnya kita tidak lagi terjerat dengan kebiasaan orang-orang barat. Karena, Rasulullah SAW telah bersabda:
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia menjadi bagian kaum tersebut”. (HR. Abu Daud)
Dalam hal ini, kesadaran bukan hanya dituntut pada individunya, namun juga masyarakat dan negara. Apabila negara dengan tegas menolak budaya apapun yang tidak baik dan melenceng dari ajaran agama (Islam), maka masyarakat yang sebagai kontrol sosial juga akan menciptakan suasana-suasana yang baik dan tidak keluar dari syariat. Tentu saja, setiap individu nantinya akan memiliki kesadaran berkehidupan islami jika suasana yang tercipta adalah suasana islam.
Ini bisa terwujud, jika negara menerapkan syariat islam secara kaffah/sempurna. Apabila hukum negara adalah hukum Islam, yang bersumber dari Al-Qur’an, hukum yang telah diciptakan oleh Allah untuk mengatur hidup manusia, maka tidak hanya pergaulan kita yang terjaga, tapi juga politik, sosial budaya, pendidikan, pertahanan, keamanan, seluruh aspek kehidupan akan terjaga kemurniannya. Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang taklid (ikut-ikutan) kepada selain hukum Islam. Sudah saatnya kembali kepada Islam, kembali kepada Syariat yang diturunkan Allah sebagai pengatur hidup manusia.

Oleh: Crafty Rini Putri

Next Page »

Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.